19 Oktober 2014

SUDAH SIAPKAH KETIKA ORANG TUA KITA BERKATA JUJUR?

Oleh : Rahmat Idris

           Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

           Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

            Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua. Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

30 September 2014

GEOGRAFI DAN PELAYARAN BANGSA ARAB

Pengantar :
              Setelah berbincang cukup intens dengan Prof Abd Hadir WM, atas pertanyaan saya kepadanya. Apakah ada bukti yang menunjukkan bangsa Arab dikenal sebagai pelaut ?  Dalam pengetahuan saya yang dangkal tentang kesejarahan bangsa bangsa masa lalu, saya hanya mengenal bangsa Arab hanyalah sebagai pedagang.  dalam diskusi itu, beliau meminta saya untuk membaca paparannya tentang peta geografi dan pelayaran bangsa Arab di sosial media yang pernah dipostingnya.
Saya terperangah membaca artikel beliau yang diposting di sosial media FB.  Ternyata bangsa Arab termasuk pelaut ulung.  Rasanya sepantasnya saya memposting tulisan beliau ini sebagai informasi berharga bagi generasi muda. Bukankah Arab pada umumnya adalah bangsa yang berperan dalam penyebaran agama islam, agama yang saya anut dan  dekat dengan  penyebaran Islam.
Apa yang kita saksikan sekarang ini, negara negara di jazirah Arab yang sebelumnya  pembawa peradaban dihancurkan oleh  negara negara adikuasa yang ingin menguasai wilayah ini karena wilayah ini kaya dengan sumber daya alam. Bukti bukti peradaban bangsa Arab, sekarang tinggal jadi puing puing. Sungguh menyedihkan. 
Berikut ini artikelnya.

Oleh : Abd Hadi WM

DI ANTARA cabang-cabang ilmu yang berkembang pesat pada permulaan sejarah Islam, khususnya pada masa kekhalifahan Abbasiyah (750-12258 M) yang beribukota di Baghdad, adalah geografi dan astronomi. Menyusul setelah itu ilmu kedokteran, matematika, filologi, kesusastraan, arsitektur, ilmu kimia, historiografi, musik, dan geometri. Dalam kedua bidang yang telah disebutkan pada awal tulisan ini Islam memberikan banyak sumbangan bagi peradaban dan kebuda-yaan modern. Geografi dan astronomi saling berkaitan, dan keduanya berkembang karena majunya ilmu pelayaran.
Bukti bahwa geografi sangat berkembang di Dunia Islam ialah munculnya banyak tokoh di bidang ini, dengan karya-karya mereka, semenjak abad ke-9 sampai ke-16 M. Yang terkenal di antaranya adalah Hisyam al-Kalbi; Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, al-Kindi, Ibn Rustah, Ibn Fadlan, Abu Sa’id al-Balkhi, al-Maqdisi, al-Mas’udi, Nasiri Khusran, al-Biruni, al-Razi dan Iain-lain.
Al-Masudi (abadke-10) terkenal dengan bukunyaPadangRumput Etnas dan Tambang Permata, yang akan mengingatkan pembaca kepada Nabi Sulaiman, yang masyhur dengan perolehan emas dan permatanya dari negeri-negeri timur. Bahkan sampai abad ke-16, ketika Dunia Islam mulai mengalami kemunduran di bidang ilmu pengetahuan, masih muncul ahli geografi seperti al-Razi yang menulis buku Tujuh Wilayah, untuk Sultan Moghul terkenal, Akbar.

20 Mei 2011

Mengapa Kita Bershalawat


Oleh : Arif Budi utomo

Pengantar Kajian :
Kajian ini masih satu rangkain dengan Kajian mengenai 'daya' yang bekerja kepada manusia. Merupakan bagaian ke dua dari tulisan Kompilasi Maha Daya.

Mengapa saya harus ber sholawat ?

Pertanyaan tersebut telah menyergah banyak orang. Bagaimanakah kejadiannya hingga kita di sunnahkan untuk selalu mendoakan keselamatan atas Nabi dan keturunannya ?!?. 
"Mengapa Nabi harus kita doakan untuk keselamatannya..?". 
Sebuah pertanyaan yang wajar atau malah kurang ajar..?. "Akankah Nabi tidak di selamatkan oleh Allah, sehingga perlu kita do’akan ..?. 
Kalau begitu..bagaimana dengan saya yang berlumuran dosa seperti ini ...?. 
Jangankan berdoa untuk keselamatan Nabi, berdoa untuk keselamatan diri sendiri pun rasanya saya kurang banyak. ?!?". 
Sambil menggerutu akhirnya kita, 'dengan enggan' mengikuti perintah untuk ber sholawat. Begitu nampaknya ...?!?.

              Banyak sekali umat muslim yang gamang untuk menanyakan ini. Semua cenderung diam, mencoba mengerti, mencoba tidak perlu bertanya, memahami dan berusaha menyadari sebagai sebuah ketentuan sebuah 'pakem' ajuaran agama. Maka maklum saja, jika akhirnya semua menerima begitu saja, sebagai suatu keharusan. Sebagai suatu kewajiban yang di sunnahkan. Menerima saja memang sudah dari leluhur, ulama dan nenek moyang kita dahulu adanya begitu.
"Ya sudahlah ... jikalau memang sudah di ajarkannya begitu ... mau diapakan lagi ... !".
Dan kemudian menjadi hal nyleneh, jika ada seseorang yang masih mempertanyakan 'mengapa ber sholawat ...'. "Nganeh-nganehi saja .." Kata orang begitu.