06 September 2010

UNTUK APA KITA MENCARI LAILATUL QADAR..???

Oleh : IMAM SARJONO

Ada pertanyaan yang menggebu dari dulu, sejak masa kecil dahulu sekali, dan juga berbentuk sebuah keinginan, mungkin ini adalah sebuah misteri, ataukah sebuah tanya, bisa pula sebuah tuntutan, dalam pencarian demi pencarian, mungkin juga dialami ribuan orang atau bahkan jutaan orang sejak dahulu kala, sejak masa awal Islam sampai masa kini, yaitu "Lailatul qadar" atau diterjemahkan dengan "malam seribu bulan". Ingin menguak misteri dari seluruh misteri tentang satu malam. Satu malam termulia, dinyatakan sebagai malam kemuliyaan. pertanyaan-pertanyaan ini bergaung, terus menerus, tanpa henti, bertahun-tahun, melintas ruang dan waktu, tanpa batas, dan pencarian demi pencarian dilakukan dengan melihat ciri-cirinya, malam itu harus seperti ini, malam tak berbintang, angin tak berdesir dsb, dsb. Lalu turunlah seluruh malaikat membawa berkah dan rahmat keseluruh alam semesta. Suasana penuh "misteri" sangat terasa, kental sekali

Kini, ketika kesadaranku sudah mulai terbuka, mencoba memahamkan tentang hakekat malam itu berdasarkan realitas atau kenyataan kehidupan yang ada disini, di saat ini, terutama bagi saya sendiri. Menyibak tirai misteri, metihat dalam kaca mata seorang manusia biasa, membuang seluruh legenda, hikayat dan melupakan sejarah, memcoba mencari hakekat dalam konteks kekinian, masa ini, disini, saat ini, oleh saya sendiri dalam realitas nyata kehidupan sehari-hari.

Malam lailatul qadar adalah malam pengajaran oleh Allah bagi hamba yang dipilihNya untuk menerima pengajaran dari Allah secara langsung. Pada saat itu akan diberi pelajaran mengenai hakekat kehidupan, seluruh proses kehidupan. Seluruh pelajaran yang seharusnya memerlukan seribu bulan pelajaran akan diberikan dalam satu kali pertemuan di malam itu. Maka pada malam itu akan dilakukan penyempurnaan jiwa. Yaitu penyempurnaan jiwa manusia untuk mengikuti akhlak Nabi Muhammad. Menjadikan jiwa kita sempurna, memakai baju takwa, artinya mengajarkan isi, makna, hakekat Al Quran secara langsung ke hati kita, sebuah pengajaran langsung yang apabila kita harus belajar sendiri memerlukan seribu bulan, itupun mungkin tidak akan pernah sampai disana. Penyempurnaan jiwa kita sebagaimana janji Allah, bahwa Dia lah yang akan menyempurnakan jiwa kita.

Bagaimana realisasinya bagi saya, bagi manusia secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Saya ibaratkan hati kita adalah tanah penuh semak belukar, kacau balau, sementara hidayah seolah seperti pesawat terbang yang dikirimkan oleh Allah untuk mendarat di hati kita. para malaikaht yang membawa berkah, rahmat dan karuniaNya. Maka pada malam lailatul qadar, Allah akan mengirimkan seribu buah pesawat terbang untuk mendarat disana, kemudian malaikat akan menaburkan benih-benih iman, benih-benih takwa, benih-benih pengajaran Al Quran ke hati kita. Kita selanjutnya yang harus memupuk agar tumbuh subur berkembang dengan indahnya, membuahkan hasil dalam kehidupan nyata kita yaitu akhlak sebagaimana akhlak Rasulullah. Dalam kehidupan nyata kita sehari-hari.

Jadi yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri, membuat landasan yang sanggup menerima seribu pesawat yang akan mendarat di hati kita. Kalau kita hanya mampu membuat landasan satu pesawat kecil, maka tidak akan mampu menerima pesawat besar, apalagi dua atau sepuluh pesawat besar bahkan seribu. Kalau kita tidak mempersiapkan diri, membuat landasan pesawat terbang di hati kita, Maka menjadi jelas dan sangat jelas kalau kita tidak akan mampu mendapatkan malam itu, karena landasannya untuk mendarat tidak ada, sehingga pesawat hanya berputar-putar di sekeliling kita. Maka mari kita buka lebar-lebar kati kita, mempersiapkan landasan pesawat seluas mungkin untuk menerima seribu pesawat terbang akan mendarat di hati kita..

Kalau saat ini kita hanya mampu membuat satu landasan yang hanya mampu menampung satu pesawat terbang, maka kitapun harus bersyukur, karena hal itu berarti kita telah mendapatkan pengajaran satu bulan dari Allah, yaitu bisa berupa benih ilmu, benih iman, benih takwa dari satu pesawat ini sudah sangat luar biasa, kita hanya perlu memupuk dan memelihara baik-baik sehingga berbuah nyata dalam kehidupan nyata kita, dalam realitas sehari-hari.. Semoga kita akan semakin baik dan semakin baik, sehingga suatu saat nanti, mampu menerima mendaratnya seribu buah pesawat terbang bersama seluruh malaikat untuk memberikan rahmat dan hidayah Allah, menyempurnakan jiwa, mengajarkan Al Quran yang benar kepada kita, sehingga kita mampu mendapatkan predikat sebagai "Sang Khalifah Allah di bumi" yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

Maka mudah dilihat seseorang yang telah mendapatkan malam lailatul qadar ini, ketika akhlaknya bertambah baik dan sempurna sebagaimana akhlak Rasulullah, maka dia telah mendapatkan malam tersebut secara keseluruhan. Kalau akhlaknya semakin membaik berarti sudah mendapatkan sebagian dari malam itu.

Semoga.

Tulisan ini hanyalah sebuah pemahaman pribadi, kalau bermanfaat bagi anda yang membaca itu hanyalah karena anda sendiri dan pemahaman yang diberikan Allah kepada anda. Kalau ini merupakan pemahaman yang salah, ini adalah mutlak kesalahan saya dalam mempersepsikan pemahaman mengenai malam lailatul qadar.

Ya, Allah, kutunggu pesawat-pesawat terbangmu singgah di hati, menebar rahmat dan karuniaMu, dalam dzikir dan doa.

Salam

Imam


26 Agustus 2010

Novel Spiritual - RINDU DI SINGGASANA TUHAN

oleh : Ustad Abu Sangkan

Berlangsung di Singgasana Tuhan

Disuatu keadaan sebelum diciptakan segala sesuatu, tidak ada bentangan langit yang luas berhias mentari dan trilyunan planet. Akibatnya tidak ada ruang, tidak ada atas, tidak ada bawah, tidak ada utara, tidak ada selatan, tidak ada barat, tidak ada timur, tidak ada sebutan waktu kemarin dan akan datang. Yang ada, keadaan "NOL" tetapi "ADA". Keadaan "Tak ada perbandingan". Hanya bisa disebut keadaan "sekarang" dan "disini", yaitu keadaan ABADI.

Inilah keadaan sesungguhnya yang berlangsung sampai sekarang, walaupun bumi berputar dan matahari memancarkan sinarnya. Waktu dan arah hanyalah sebuah kejadian oleh sebab akibat. Adanya siang dan malam hanyalah sebuah tipuan sinar matahari yang terhalang oleh punggung bumi. Adanya waktu akan datang dan masa lalu, hanyalah akibat perputaran bumi. Maka pantaslah iblis dan malaikat bisa bertahan hidup abadi disini, karena waktu hanyalah bersifat relatif. Dan Tuhan bersemayam disini abadi tanpa batas, yang disebut awal dan akhir. Dan Tuhan pernah berkata kepada Sang Utusan: "Wahai hamba-Ku, jangan engkau berusaha mencari Aku, karena Aku sudah ADA dekat denganmu, dibalik putaran materi proton dan netron yang menyusun tubuhmu. Aku-lah yang disebut KOSONG, Tan kena kinaya apa, yang disebut 'laisa kamistlihi syaiun',tidak bisa dipersepsikan dengan segala apa yang ada, Aku-lah hakikat ADA yang dengan berkata KUN ! maka, FAYAKUN dan Jadilah segala sesuatu".

Kekuatan sabda-Nya terucap "KUN" ! Maka ledakan besarpun terjadi, "big bang" ! Getaran sabda-Nya menghasilkan energy yang sangat dahsyat sampai berekspansi memenuhi ruang yang tak terbatas. Putaran energy bergerak dengan sangat cepat membentuk gumpalan-gumpalan berupa asap yang semakin memadat. Hanya dengan hitungan waktu enam masa, terciptalah tujuh petala langit dan benda-benda dari hasil ikatan energy yang sangat padat. Didalamnya ada bumi yang akan dijadikan tempat kekuasaan khalifah Tuhan.

Para malaikat dipanggil menghadap-Nya disinggasana keabadian,.ditempat tergantungnya Lauhul Mahfudz tanpa huruf. Tampak terpampang rencana Tuhan untuk menciptakan "khalifah" di bumi. Dan malaikat telah membaca catatan pada lauh itu, "Wahai Tuhanku mengapa Engkau hendak merencanakan yang telah gagal memberikan amanah kepada manusia yang selalu membuat pertumpahan darah?". "Bukankah cukup kami saja yang selalu menuruti kehendak-Mu dan selalu memuja-Mu ?", protes Malaikat.

Tuhan menampilkan keagungan-Nya tanpa penjelasan rencana-Nya tersebut, dan Ia berkata : "Aku lebih tahu dari apa yang kalian tidak ketahui", Mendengar jawaban Tuhan, para malaikat dengan perasaan bersalah tanpa pikir lagi langsung menelungkup dihadapan Tuhan. Dan memohon ampun atas kelancangannya.

Tuhan merahasiakan kepada malaikat rencana ini, yang sempat mengguncangkan keimanannya kepada Tuhan. Ia telah menganggap Tuhan melakukan percobaan tanpa perencanaan yang baik sehingga manusia masa lalu telah mengingkari amanat kekhalifahannya. Pikirannya masih ragu atas rencana yang akan dilakukan Tuhan.

Tuhan Menyusun Inti Tanah


Butir-butir sulalah berupa zat inti bumi mulai bergerak menyusun karbonium, oksigenium, hidrogenium, natrium, dengan diselimuti kekuatan "KUN", membentuk menjadi
nuthfah, kemudian 'alaqah, kemudian menjadi mudghah, kemudian 'idhaman yang dibungkus daging sehingga menjadi makhluk baru dengan wajah rupawan bernama "manusia". Dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang tinggi, tampak wajah Tuhan seolah lebih serius perhatiannya terhadap makhluk yang baru diciptakan ini. Para malaikat masih dalam syak wasangka atas ciptaan yang sekedar berupa tanah. Apa gerangan yang membuat Tuhan lebih serius dan bangga. Bukankah ia lebih rendah dari dirinya yang tercipta dari cahaya? Pikirannya selalu menggayuti imannya yang sudah mantap. Ah ... tapi ia berusaha menepisnya, untuk tetap percaya atas af'al Tuhan. Pandangannya menatap ke wujud tanah yang lemah yang sudah berbentuk, lalu ia melihat sebuah kilatan cahaya menyusup dengan cepat kedalam tubuh manusia ini. Sebuah cahaya yang tidak pernah ia saksikan sebelumnya. Sebuah cahaya yang tidak bisa digambarkan oleh sesuatu. Cahaya diatas cahaya, melampaui cahaya yang membentuk dirinya. Hampir menyamai cahaya Tuhan yang pernah ia saksikan setiap saat. Hampir saja ia menyembahnya karena kemiripannya dengan Tuhan. TIDAK ... ia bukan Tuhan! Malaikat menyangsikan pikirannya sendiri. "Lalu cahaya apa ?", pikirnya.


Tuhan mengetahui gerak pikiran malaikat yang terpana menatap kilatan cahaya. Lalu Ia berkata:
"Itulah Roh yang Ku tiupkan yang hampir mirip dengan-Ku, tetapi Ia bukan Aku. Ia hanyalah pantulan Cahaya-Ku, yang karenanya Ia mempunyai sifat seperti Aku. Tetapi ia bukan sama dengan Aku. Karena Cahaya-Ku-lah, Ia mempunyai kehendak bebas seperti Aku, Ia menjadi penguasan seperti Aku. Ia bisa marah dan mempunyai kasih sayang seperti Aku, Ia mempunyai sifat-sifat seperti dalam Asma-Ku. Sehingga ia ku beri gelar RUH-KU. Karena ia Kuberi kemampuan menjadi wakil-Ku,menjadi utusan-Ku, menjadi wali-Ku dan menjadi Duta Istimewa atas nama-KU. Ia Kuberi kebebasan berkuasa di muka bumi, sebagian Kerajaan-Ku yang sangat luas. Untuk itu, hormatlah kalian dengan bersujud di kakinya".


Maka seluruh malaikat bersujud tanpa menghiraukan pikirannya yang masih belum memahami hakikatnya.
"Inilah sebagian Rahasia-Ku yang tidak bisa kusampaikan kepadamu. Inilah urusan pribadiku yang paling rahasia. Engkau tak akan mampu memasuki wilayah dimensi Ruh bagian dari rahasia-Ku. Beradalah dalam dimensimu yang telah ku tetapkan untuk patuh seperti alam ciptaan-Ku yang lain. Engkau tidak akan mampu menerima amanat dimensi ruh-Tiupan-Ku sehingga engkau akan menjadi penentang-Ku yang paling utama".


Diantara mereka masih ada yang berdiri tegak tanpa memperdulikan perintah Tuhan untuk bersujud. Ia adalah iblis, makhluk yang paling cerdas dan pandai, serta paling setia kepada Tuhan. Akan tetapi, untuk urusan bersujud kepada makhluk yang terbuat dari tanah, menurutnya Tuhan pasti melakukan suatu kekeliruan. Ditunjukkan ketidak setujuannya dengan tetap berdiri. Harapannya agar Tuhan menegurnya dan ia akan memprotes atas perlakuan ini.


Wajah Tuhan menampakkan kemarahannya kepada iblis, lalu menegurnya dengan lantang :
"Hai Iblis ! Mengapa engkau berani menantang perintah-Ku". Iblis tertunduk dalam dan sorot matanya terfokus pada ujung kakinya menandakan kekecewaan yang dalam, dan iblis menjawab : "Wahai Tuhanku, selama ini kami selalu menuruti perintah-Mu. Bukan kami hendak menentang-Mu sebagai Penguasa langit dan Bumi. Akan tetapi tidak sepantasnya Engkau memerintahkan kami bersujud kepada manusia yang terbuat dari tanah, sedangkan kami Engkau ciptakan dari Api".

Sang Penguasa Jagat Raya tetap dalam pendirian-Nya. Alasan iblis tidak bisa diterima untuk tidak mengikuti perintah-nya. Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi diri-Nya. Tidak ada kesalahan bagi sang Penguasa atas rencana-Nya. Iblis terlanjur mengambil sikap dan menuruti kehendak hatinya yang membara sehingga Tuhan demi kekuasaan-Nya mengutuk sikap iblis tanpa ampunan. Sebab iblis tetap merasa tidak bersalah. Dan Iblis semakin sakit hatinya, karena Tuhan tidak menghiraukan alasannya.


Sebagai Hakim Yang Maha Agung, keputusan Tuhan telah ditetapkan. Iblis diberi kesempatan untuk mengungkapkan keinginannya yang terakhir dihadapan Hakim Yang Maha Agung. Ternyata iblis tetap dalam pendiriannya untuk tidak memohon ampun. Akan tetapi justru memohon dipanjangkan usianya sampai hari dibangkitkan. Dan dibebaskan melakukan apa saja untuk mampu menggoda seluruh manusia, kecuali mereka yang berlin

Sang Ruh Turun ke bumi


Tuhan mengumpulkan seluruh ruh di padang azaly. Suasana terang benderang oleh Cahaya Ilahy yang memantul menjadi sifat ruh yang suci. Adalah gelar "Ruh-Ku" yang disandang oleh makhluk yang akan bertugas turun ke bumi. Disaat menjelang persiapan ditiupkan ruh kedalam tubuh manusia, Tuhan berkata: "Ya Ruhii ... bukankah Aku ini Tuhanmu?" Para ruh menjawab: "Tentu wahai Tuhan, kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan Penguasa seluruh alam. Kami siap menerima tugas suci ini atas nama Engkau. Akan kami nyatakan bahwa setiap yang kami kerjakan adalah atas Nama Engkau Yang Maha Pengasih dan Penyayang".


Tuhan memberi pengarahan kepada Ruh untuk berhati-hati menjalankan tugas berat. Karena seluruh makhluk tidak mampu membawa amanah ini. Tuhan mengingatkan: "Hakikat dirimu adalah Aku ciptakan melalui Tiupan Ruh-Ku yang bersifat suci. Pada saatnya engkau harus kembali menghadap-Ku. Tubuhmu aku ciptakan dari Tanah yang memilki sifat rendah seperti binatang. Iblis akan selalu mengikuti engkau dibalik sifat-sifat kebinatangan ini. Jika engkau lengah atas dirimu sebagai tiupan Ruh-Ku, engkau akan ditenggelamkan kedalam lumpur hitam yang menyebabkan dirimu tak mampu keluar tanpa pertolongan- Ku. Engkau akan menjadi binatang yang sangat buas melampaui binatang yang telah Aku ciptakan dengan sifat serakah. Engkau akan saling membunuh dan merusak alam yang telah Ku ciptakan. Dan engkau akan menjadi penentang-Ku yang paling hebat seperti yang dilakukan Iblis kepada-Ku".

Ingatlah ... pertahankan dirimu sebagai Ruh Tiupan-Ku, bukan sebagai badan berunsur sari pati tanah. Engkau bertugas mengendalikan sifat-sifat badanmu yang selalu berkecenderungan terikat kepada asal muasal ciptaannya, yaitu tanah. Jangan seperti seorang kusir delman yang tidak mampu mengendalikan kudanya yang liar membawamu kemana saja. Tugasmu adalah mengendalikan kuda-kuda tersebut atas perintah-Ku.

Jika engkau mampu mengendalikannya, maka engkau telah memenuhi amanah-Ku. Engkau adalah wali-Ku, engkau adalah utusan-ku yang sejati. Saat ini, mulailah bertugas dengan tetap berpegang teguh mengingat-Ku setiap saat.


Dengan perasaan berat, Ruh tidak kuasa meninggalkan Tuhan menuju tempat yang asing baginya. Ia sudah merasa bahagia bersama Tuhan. Menikmati memandang Wajah-Nya yang tak terbandingkan. Ia masih ragu-ragu untuk memulai bertugas. Karena khawatir tidak bisa lagi berjumpa Tuhan. Keterikatannya terhadap Tuhan begitu kuat, sehingga berat rasanya untuk melangkah unjuk diri.


Abu Sangkan

nantikan kelanjutannya ...

dung kepada Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan permintaan Iblis.


12 Agustus 2010

Parlemen Burung " Attar " (3)

by Abdul Hadi Wm.


Meena Natarajan’s adaptation of the 12th century Sufi poem written by Farid-ud-Din Attar, CONFERENCE OF THE BIRDS is metaphorically maps out the journey of the human spirit in its quest for truth.The birds of the world take flight on a pilgrimage to find their celebrated king but the dangers and hardships encountered on the journey cause many of them to abandon their search. In the end the small number of birds that survive uncover a profound secret.



Burung-burung yang tak berdaya menyerupai ayam sekarat itu kemudian merasa putus asa. Demikian lama mereka menunggu jawaban. Tiba-tiba dalam sekejap mata pintu pun terbuka dan muncullah sang pengawal istana. Dipandangnya burung-burung itu, jumlah mereka tinggal tiga puluh ekor dari ribuan yang bersama-sama melakukan perjalanan. Pengawal berkata, “Dari manakah kalian datang, o burung-burung? Apa yang kalian lakukan di sini? Siapa saja nama kalian? Betapa sengsaranya kalian, di manakah rumah kalian? Apa yang bisa kalian kerjakan sebagai makhluk yang lemah di tempat ini?”
“Kami datang kemari”, ujar mereka “untuk menghadap raja kami Simurgh. Karena begitu rindu dan cintanya kami kepada baginda, beginilah akhirnya kami kebingungan dan pusing. Dulu ketika kami berangkat jumlah kami ribuan, dan kini kami hanya tinggal tiga puluh ekor. Kami tak yakin raja kami akan memperlakukan kami penuh penghinaan seperti ini, karena perjalanan yang kami tempuh demikian sukar dan penuh penderitaan.

Judul berbeda untuk cerita yang sama. Bukit Qaf tempat tinggal Simurgh, raja burung.

“Oh, tidak! Baginda harus menyambut dan menerima kami dengan penuh kasih sayang!” Pengawal menjawab, “O, burung-burung yang kebingungan dan kesulitan, apakah kau ada atau tidak, raja tetap ada dan abadi. Ribuan makhluk di dunia tak lebih dari semut di depan gapuranya, apalagi kalian. Kalian kemari tak membawa sesuatu apa pun, kecuali ratap tangis dan sedu sedan. Kembali sajalah kalian ke tempat kalian datang, o makhluk yang hina dina!”
Mendengar itu mereka terkulai dan heran. Setelah berpikir, mereka berkata lagi, “Apakah baginda akan menolak kami seraya menghina? Dan bilamana demikian memang sikap baginda, tak mungkinkah penghinaannya berubah jadi penghormatan?

Sejauh-jauh perjalanan hidup unggas Pingguin selain tak bisa terbang, siklus alam membatasi.

Majnun pernah berkata “Bila seluruh umat manusia di bumi ini menyanyikan puji-pujian bagiku, takkan kuterima; aku lebih suka penghinaan Leila. Sebuah penghinaan yang diberikan Leila bagiku jauh lebih baik dari ribuan pujian dari perempuan yang lain.”
“Cahaya kebesarannya telah tersingkap,” ujar sang pengawal. “Dan semua nyawa akan hangus. Bila roh sirna oleh ratusan dukacita, pahala apa yang akan diperoleh? Anugerah apa yang akan kalian terima dalam sekejap ini?” Terbakar oleh api cinta burung-burung itu berkata, “Bagaimana laron bisa mengelak dari nyala lilin apabila dia ingin menyatu dengan cahaya lilin? Sahabat yang kami cari pasti membuat kami senang bilamana kami dikabulkan berkumpul dengannya. Bila kini kami ditolak buat berjumpa, apalagi yang harus kami lakukan? Kami laksana laron yang ingin menyatu dengan nyala lilin. Kami mohon bukan lantaran dungu, karena tujuan kami adalah mensucikan diri, dan kami yakin ucapan kami ini akan membuat hatinya senang serta berterima kasih.

Bukankah baginda telah berkata, barangsiapa yang menyerahkan seluruh hatinya pada nyala apinya, takkan ada kesulitan merintangi dirinya?” Setelah pengawal selesai menguji ketabahan mereka, kemudian pintu terbuka. Sesaat mereka menyingkir ke samping. Kemudian seratus tabir satu persatu tersingkap, dan jelaslah tampak dunia baru terhampar di hadapan mereka.

Lukisan Persia abad ke 17, simbolisasi sufistik Attar: Bukit Qaf persemayaman Simurgh, pohon meranggas, liak-liuk sapuan kuas berherak dinamis, gaya ekspresionis, cahaya dan panas muncul dari api yang bergelora dengan intensitas warna tinggi ditingkah oleh warna-warni “picturesque”, bulu burung. Makna keceriaan setelah habis “terbakar”.

Cahaya dari segala cahaya bersinar terang dan duduklah mereka semua seraya tunduk di hadirat baginda yang mulia. Mereka memperoleh kalam buat mereka baca; dan setelah mereka membaca dan merenunginya dalam-dalam, barulah mereka paham keadaan yang sebenarnya. Hati mereka tenang dan damai, lepas dari segala kesulitan, dan setelah itu barulah mereka menyadari bahwa Simurgh tinggal bersama mereka. Kehidupan baru bersama Simurgh telah mereka kecap. Seluruh amal dan perbuatan mereka selama ini lenyap tak berbekas. Matahari kebesaran sang raja memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang, dan tiap sinar memantulkan wajah mereka tiga puluh ekor banyaknya (= si-murgh) dari dunia luar yang telah terserap Simurgh yang bersemayam dalam diri mereka. Mereka merasa takjub, karena sebelumnya mereka tak menyangka bahwa mereka akan tetap sebagai diri mereka.

Hutan tropis, surga burung-burung tropis
Corak Batik Madura, mengusung pandangan hidup Sufi, lewat unsur stilasi bentuk Simurgh.

Akhirnya ketika mereka merenungi dalam-dalam, tahulah mereka bahwa merekalah Simurgh itu sendiri dan bahwa Simurgh artinya tiga puluh ekor burung. Ketika mereka menatap Simurgh mereka lihat bahwa Simurgh benar-benar yang ada dihadapan mereka, dan bilamana mereka mengalihkan mata, mereka sendiri adalah Simurgh. Dan bilamana keduanya saling memandang, diri mereka dan Dia, tahulah mereka bahwa mereka dan Simurgh adalah satu dan wujud yang sama jua. Hal ini tak pernah mereka dengar sebelumnya. Kemudian mereka tafakkur dan tak lama sesudah itu mereka mohon kepada Simurgh tanpa menggunakan lidah, agar mewahyukan kepada mereka rahasia kesatuan dan kepelbagaian wujud. Simurgh, pun tanpa mengucapkan sepatah kata, menjawab:

Burung-burung saling bercermin diri.

“Matahari kebesaranku adalah sebuah cermin. Dia yang melihat dirinya sendiri akan melihat jiwa dan tubuhnya, dan akan melihatnya dengan sempurna. Karna kalian datang sebanyak tigapuluh ekor, si-murgh, maka kalian akan melihat tigapuluh ekor burung dalam cermin ini. Bila empat puluh atau lima puluh ekor yang datang, yang akan kau lihat sama. Walaupun sekarang kalian benar-benar mengalami perubahan, kalian lihat diri kalian sendiri tetap sebagaimana diri kalian sebelum ini. “Dapatkah penglihatan seekor semut mencapai bintang Soraya yang jauh? Dapatkah serangga kecil ini mengangkat tempat pijaknya? Pernah kau lihat seekor nyamuk mengangkat seekor gajah dengan giginya?

Segala yang kau ketahui, segala yang telah kau lihat, segala yang telah kau sebut atau kau dengar, semua ini bukan itu lagi. Bilamana kalian telah menyeberangi lembah jalan kerohanian dan bilamana kalian telah memenuhi kewajiban dengan baik, maka kalian akan menjadi seperti ini berkat tindakanku; dan kalian sanggup melihat lembah hakikat dan kesempurnaanku. Kalian, yang jumlahnya tiga puluh ekor, takjub, tercengang dan kagum. Tetapi aku lebih dari tiga puluh ekor burung itu. Aku adalah hakekat yang sesungguhnya dari Simurgh yang sebenarnya. Leburkan diri kalian dengan bangga dan penuh sukacita ke dalam aku, dan di dalam aku kalian akan menemukan diri kalian.”
Setelah itu burung-burung itupun sirna buat selama-lamanya di dalam Simurgh – bayang-bayangnya musnah ditelan sang matahari, dan khatam. Apa yang kau dengar semua ini atau apa yang kau lihat dan kau ketahui bukan awal dari segala yang harus kau ketahui, dan puing-puing kehidupan di dunia ini bukanlah tempat tinggal yang harus kau rindukan.

Carilah batang pohon, dan jangan khawatir apakah cabang-cabangnya itu ada atau tidak. Ribuan generasi telah lewat. Burung-burung yang baka telah pasrah meleburkan dirinya dalam kefanaan. Tak seorang pun, tua atau muda, bisa menguraikan dengan tepat apa yang disebut baka dan mati itu. Seperti bilamana segala peristiwa jauh dari mata kita, bagaimana mungkin kita menguraikannya? Bila pembaca ingin penjelasan lebih jauh dengan amsal-amsal mengenai kebakaan yang terjadi setelah fana, aku akan menulis buku yang lain. Selama kita terbelenggu oleh benda-benda dunia, kita takkan sampai ke Jalan itu. Namun bilamana dunia tak lagi membelenggu, kau akan sampai seakan-akan memasuki dunia mimpi, dan akhirnya akan tahu bahwa kau mendapatkan rahmat yang tak terkira. Janin insan terpelihara dengan baik hanya oleh cinta dan kasih sayang sehingga kelak bisa menjadi orang yang pandai dan saleh.

Farid-ud-Din Attar (1142-1230) sastrawan
Sufi Persia masa Dinasti Khawarizmi (1170 – 1231). Di kota Nishapur, Iran ada patung kepalanya yang terlihat dirangkul burung.

Pengetahuan inilah yang harus dituntut orang. Kemudian ajal datang dan segala yang kau miliki lenyap, tenggelam. Sehabis itu kau jadi debu jalanan. Berkali-kali seseorang itu fana; tapi bila orang berhasil mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang hakiki, akhirnya ia akan menerima kebakaan, dan akan mendapatkan kehormatan dalam keadaan hina. Tahukan kau apa yang kau miliki? Masuklah ke dalam dirimu dan bercerminlah! Selama kau tak paham akan ketiadaanmu, dan selama kau tak menyadari kebanggaan semu, kesombongan dan cintamu yang berlebih-lebihan pada dirimu sendiri, selama itu pula kau takkan mencapai puncak kebakaan. Di Jalan itu kau akan terjerumus dalam kehinaan, namun kemudian kau akan bangun dengan dipenuhi kemuliaan dan kehormatan. (Selesai).